Visitcirebon.com – Cirebon sebagai pedukuhan kecil yang dulu ditinggali oleh leluhur banyak menyisakan sejarah menarik. Bagaimana sebuah kehidupan yang rukun antarsesama manusia pernah hidup di dalamnya. Saling tenggang rasa dan toleransi terhadap orang lain. Berbagi dengan cara gotong riyong dan hidup guyub. Hingga kemudian zaman beralih kepada ketamakan dan kerakusan karena datangnya penjajah. Kota ini pun harus menerima peperangan dan tumpah darah di mana-mana.

Sekelumit cerita itu barangkali hanya seujung kuku karena masih banyak kisah yang belum terungkap. Hingga kini hanya tinggal sisa-sisa sejarah yang masih bisa diulik. Faktanya, Cirebon hari ini adalah bekas wilayah Kesultanan Cirebon, sebuah  kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi. Pada masanya, kesultananan ini menguasai jalur perdagangan dan pelayaran antarpulau. Karena berlokasi di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, terciptalah suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.

Hingga Sunan Gunung Djati adalah satu-satunya anggota walisongo yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Nama kecilnya Syarif Hidayatullah  dan lahir antara tahun 1448- 1450. Sunan Gunung Djati, seorang kreator dibentuknya pasukan gabungan dibawah Fatahillah yang membebaskan Batavia dari penjajahan Portugis dan mengubah namanya menjadi Jayakarta cikal bakal Jakarta, pada tahun 1527. Sekarang nama Sunan Gunung Djati diabadikan menjadi Universitas Islam Negeri Bandung (dulu IAIN SGD) di Cibiru. Karena itu, Cirebon penuh dengan petilasan kerajaan, dan sering disebut tempat wisata ziarah. Seperti Makam Sunan Gunung Djati, situs Batu Tulis Huludayeuh, Pesanggrahan Balong Biru, dan Situs Lawang Gede.